Berita

Renungan untuk para “Calon Tenaga Kerja” (Sebuah artikel)

Renungan untuk para “Calon Tenaga Kerja” (Sebuah artikel). Dinperinaker. (25/8) Pucang Kerep. Dulu saat saya bergabung dengan instansi pemerintah khususnya bidang tenaga kerja, usia saya hampir sebaya atau tidak terpaut jauh dari klien (siswa) yang saya ajar di Balai Latihan kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten Purworejo ini. Saya sangat memahami gejolak kawula muda dari para siswa yang waktu itu rata rata masih kelahiran tahun 80 – 90 an. Hingga kini, di era serba digital, beberapa generasi saya perhatikan semakin ke sini semakin banyak fenomena yang muncul. Hal ini tentu bukan hanya secara fisik atau fashion mereka yang sudah sangat kekinian, namun secara mental atau mindset dan cara berkomunikasi, terdapat hal – hal yang menggelitik untuk dianalisa. Ada hal unik yang saya amati dari mereka,khususnya saat mereka baru mulai bersentuhan dengan lembaga pelatihan seperti BLK. Mereka berda di usia – usia dimana mulai harus meninggalkan masa kanak – kanak dan menuju puncak remaja yang sudah mulai berpikir untuk beraktifitas yang menghasilkan uang, sambil tetap mempertahankan identitas sebagai anak – anak yang masih suka “bermain”, “jajan”, “difasilitasi” dan sebagainya.
Memang tidak dapat dipukul rata dan tidak adil jika divonis bahwa semua peminat pelatihan di BLK adalah “anak mama” yang masih manja, suka hura – hura atau belum butuh pekerjaan. Ada juga yang keluarganya sangat kerepotan dalam hal ekonomi, dan berharap banyak kepada BLK untuk menjadi salah satu jalan keluarnya. Sebagian pula calon peserta adalah merka yang sudah berumah tangga, dan ikut menanggung meringankan nafkah suami atau istrinya. Ada yang sudah punya orientasi, setelah selesai pelatihan, mereka akan “ikut” saudara atau kerabat mereka di perantauan untuk mulai meniti masa depan sebagai anak baru dalam perburuhan di kawasan – kawasan industri.
Fenomena unik lain, banyak alumni perguruan tinggi yang sangat berminat untuk mengikuti pelatihan di BLK. Di sela – sela pasca masa ujian akhir atau setelah diwisuda, para pemud aharapan bangsa ini merasa tetap membutuhkan tambahan ilmu dan tempaan pembentukan karakter sebelum benar – benar terjun ke dunia kerja yang masih sangat asing bagi mereka. Walau ada juga yang merasa belum “siap” dan masih merasa “nyaman” jika status mereka sebagai mahasiswa sudah masanya untuk ditanggalkan. Mereka memilih untuk memperpanjang status “siswa” dengan menjadi “peserta pembelajaran” lagi di lembaga kursus seperti Balai Latihan Kerja. Secara ekonomi, mereka berasal dari keluarga mampu.Keluarganya mampu menyelesaikan dan membiayai perkuliahan dari nol hingga menyandang gelar sarjana, dan tentunya biaya serta gaya hidup nya menyesuaikan dong dengan status mahasiswa nya.
Kembali ke anak – anak yang mendaftar. Di setiap angkatan, di setiap gelombang, selalu ada calon peserta atau pendaftar yang mengajukan pertanyaan senada, “Nanti setelah lulus disalurkan kerja nggak Pak/Bu?”. Sebuah pertanyaan yang normatif dan sederhana, namun sangat spesifik merujuk ke suatu proses yang sangat penting dalam suatu tahapan kehidupan: Memperoleh Pekerjaan (dan penghasilan). Namun di satu sisi, pertanyaan ini seolah mengungkapkan identitas generasi yang manja, letoy dan sudah terbiasa dengan kemudahan – kemudahan. Kata – kata “disalurkan” adalah gambaran suatu aktifitas pasif. Dalam bayangan indah mereka, mereka akan dapat mengikuti pelatihan, memperoleh fasilitas, uang saku, mendapatkan teman baru, dan mungkin kekasih baru, lalu diakhir pelatihan akan langsung menyandang status baru sebagai karyawan perusahaan yang memiliki gaji, hidup berkecukupan, bisa hura – hura dan sebagainya. Mimpi yang indah, tapi saat ini adalah waktunya melihat realitas. It’s not that easy gaes, bisa memeperoleh pekerjaan bukan perkara mudah, apalagi diperoleh dengan hanya bersikap pasif, tanpa effort tanpa struggle dan proses yang cukup berliku. Memang faktor keberuntungan, rezeki orang berbeda beda. Namun semudah apapun suatu pekerjaan dapat diperoleh, semua memerlukan proses.
Kemudian jawaban kami selaku petugas pendaftaran cukup yang diplomatis namun dangkal saja. “Kewajiban kami hanya melatih, membekali peserta pelatihan dengan skill yang dibutuhkan untuk bekerja. Kami sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan, jika perusahaan itu akan merekrut alumni BLK, maka kita akan fasilitasi untuk melakukan seleksi di BLK atau secara kolektif ke Perusahaan tersebut”. Titik. Jawaban yang cukup aman karena “bola” tidak di tangan kami. Secara kedinasan memang ada Seksi Penempatan Tenaga Kerja di Disnaker yang tugasnya adalah menjembatani pemberi kerja dan pencari kerja. Di sana lah letak lowongan kerja dari berbagai penjuru dunia. Meskipun jawaban kami dangkal, memang benar adanya beberapa kali dalam setahun, perusahaan besar seperti Komatsu© (industri alat berat dan sparepart nya) dan beberapa perusahaan garmen besar serta ritel seperti Indomaret© telah melakukan seleksi di BLK atau bergabung dengan BLK. Hasil seleksi tersebut, tentunya tidak lepas dari faktor utama atau pelaku utama pemeran proses seleksi. Ya. Siswa itu sendiri. Meskipun secara skill teknis BLK sudah membekali siswa dengan berbagai ilmu terapan sesuai kejuruannya, namun perusahaan dalam hal ini petugas seleksi dari Human Resource Department sangat jeli melihat potensi peserta seleksi, baik dari attitude, mental maupun kemampuan nya berkomunikasi.
Jika secara teknis perusahaan dapat berhitung berapa keuntungan perusahaan jika meng-hire seorang fresh graduate, namun ada faktor yang harus diselami secara psikologis terkait attitude siswa sebagai pelamar kerja. Hal ini belum dapat terukur oleh perusahaan, karena efek nya bisa besar, berantai dan masiv. Oleh karena itu, bahkan perusahaan besar sekelas Komatsu pernah memberikan statemen kepada pihak BLK seperti ini. “Kami ingin almuni BLK itu dilatih dengan 90% kurikulum Character Building, dan cukup 10% Teknis”. Ini disampaikan karena menurut mereka, attitude lebih penting daripada kemampuan skill teknis. Skill dapat dipelajari dalam masa training dengan cepat. Namun attitude dibentuk melalui proses yang panjang, lama dan mahal.
Dari sekian banyak cerita di atas, saya ingin berpesan kepada para calon siswa atau siswa, jika ingin sukses, memperoleh pekerjaan, berpenghasilan yang layak, silakan menempuh jalur pelatihan di BLK, ikuti prosedurnya, maksimalkan transfer ilmunya, dan lebih penting, biasakan bersikap disiplin, berpenampilan bersi dan rapi , serta berlatihlah berkomunikasi yang baik dengan sesama peserta, dengan instruktur, atau dengan pihak manapun. Era yang serba digital ini nantinya akan sangat menuntut kreatifitas dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi serta platform – platform baru. Mengikuti pelatihan di BLK hanyalah salah satu upaya memperkaya portofolio para pemuda untuk nantinya berkompetisi pada persaingan pasar kerja, atau menjadi bekal untuk merintis suatu usaha start up yang modern dan dapat diterima konsumen.
Salam Kompeten, semoga anda sukses.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *